Masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan konsep jangka atau ramalan masa depan, seperti Jangka Jayabaya dari Jawa atau serat-serat kuno lainnya. Banyak orang mencoba mencocokkan atau membandingkan prediksi Nostradamus dengan ramalan lokal mengenai pemimpin masa depan (Ratu Adil) atau bencana alam besar.

Buku-buku versi Indonesia ini tidak hanya berisi teks asli, tetapi juga interpretasi yang dikaitkan dengan sejarah global dan lokal:

Banyak ilmuwan dan sejarawan modern setuju bahwa popularitas Nostradamus bertahan hingga hari ini karena adanya efek hindsight bias (kecenderungan mencocok-cocokan peristiwa setelah hal itu terjadi) dan salah penerjemahan yang disengaja demi kepentingan komersial.